Data survei menunjukkan bahwa sikap terhadap perubahan iklim sangat dipengaruhi oleh faktor politik: para pemilih partai sayap kanan radikal populis (PRR) cenderung kurang peduli, dan kesenjangan tersebut semakin melebar ketika isu-isu lingkungan menjadi prioritas.``Sikap terhadap iklim dari partai-partai sayap kanan radikal populis (PRR) telah menarik perhatian yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir, namun sedikit yang diketahui tentang pandangan para pemilihnya. Apakah pendukung PRR menunjukkan kepedulian yang lebih rendah terhadap perubahan iklim dibandingkan warga negara lainnya? Dan jika demikian, apa yang membentuk perbedaan ini?Analisis data Survei Sosial Eropa dari tahun 2020 hingga 2022, yang mencakup 22 negara UE-OECD, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Hasilnya mengungkapkan tiga pola utama. Pertama, pemilih PRR secara signifikan kurang peduli terhadap perubahan iklim dibandingkan pemilih lainnya. Kedua, hubungan negatif ini tetap berlaku bahkan setelah memperhitungkan karakteristik sosiodemografis seperti usia, pendapatan, pendidikan, dan status pekerjaan. Ketiga, konteks politik memainkan peran krusial dalam memoderasi kesenjangan ini.Perbedaan sikap terhadap iklim tidak seragam di seluruh Eropa. Perbedaan ini cenderung melebar di negara-negara di mana partai-partai sayap kanan radikal (PRR) mengadopsi sikap yang lebih anti-lingkungan, di mana isu lingkungan menempati urutan yang lebih tinggi dalam agenda politik—baik bagi partai-partai PRR maupun sistem partai secara luas—dan di mana partai-partai Hijau memiliki kekuatan elektoral yang lebih besar.Temuan ini menunjukkan adanya interaksi antara posisi partai, keunggulan politik, dan persaingan elektoral dalam membentuk cara pemilih sayap kanan radikal menanggapi masalah iklim.Pemilih yang terpecahSeperti yang ditunjukkan oleh data studi ini, pendukung partai-partai PRR cenderung menunjukkan tingkat kepedulian yang lebih rendah terhadap perubahan iklim dibandingkan pemilih dari golongan politik lain. Rata-rata, hanya 40 persen pemilih PRR yang menganggap perubahan iklim “sangat atau sangat serius,” dibandingkan dengan 57 persen pemilih yang mendukung partai lain. Pemilih PRR juga menunjukkan kesediaan yang lebih rendah untuk membayar harga atau pajak yang lebih tinggi guna mengatasi degradasi lingkungan.Namun, pemisahan ini tidak mutlak. Di negara-negara seperti Prancis, Austria, dan Finlandia, pemilih sayap kanan radikal menunjukkan dukungan di atas rata-rata terhadap energi terbarukan dan efisiensi energi. Partai Kebebasan Austria (FPÖ), misalnya, memanfaatkan sentimen lokal dan konservasionis yang kuat di daerah pedesaan, menggabungkan proteksionisme budaya dengan tingkat kepedulian lingkungan.Sebaliknya, partai-partai seperti Lega di Italia atau Partai Kebebasan (PVV) di Belanda secara konsisten sejalan dengan skeptisisme iklim dan nasionalisme ekonomi, yang menggambarkan kebijakan ramah lingkungan sebagai kebijakan yang didorong oleh elit atau bersifat menghukum secara sosial.Namun, bahkan dalam kasus-kasus ini, data ESS menunjukkan bahwa sebagian kecil pemilih sayap kanan radikal sangat prihatin terhadap polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lingkungan lokal.Kedaulatan diutamakan, iklim di urutan keduaBanyak partai PRR memandang isu lingkungan melalui lensa kedaulatan nasional dan perlindungan ekonomi. Alih-alih menyangkal risiko lingkungan secara langsung, mereka sering menentang tata kelola iklim supranasional, seperti langkah-langkah EU Green Deal, yang digambarkan sebagai ancaman bagi industri dan gaya hidup nasional.Posisi ini mencerminkan kekhawatiran pemilih tentang biaya dan keadilan. Data ESS menunjukkan bahwa pemilih PRR jauh lebih enggan daripada kelompok lain untuk mendukung harga energi yang lebih tinggi, bahkan ketika manfaat lingkungan jelas. Penolakan ini paling kuat di kalangan pemilih kelas pekerja dan pedesaan, banyak di antaranya mengaitkan kebijakan hijau dengan kehilangan pekerjaan atau ketidaksetaraan sosial.Pada saat yang sama, narasi PRR semakin mengadopsi bentuk lingkungan hidup yang defensif, yang berpusat pada pelestarian alam lokal, pertanian tradisional, atau identitas nasional. Tema-tema “eko-nasionalis” ini menarik bagi pemilih yang menentang migrasi dan globalisasi tetapi mendukung bentuk-bentuk konservasi tertentu, terutama jika terkait dengan lanskap atau warisan nasional.Iklim sebagai masalah sekunderMeskipun perubahan iklim berada di urutan bawah dalam daftar prioritas bagi sebagian besar pemilih sayap kanan radikal, isu ini tidak sepenuhnya absen. ESS menunjukkan bahwa di negara-negara yang menghadapi peristiwa cuaca ekstrem atau skandal polusi, keprihatinan di kalangan pemilih PRR dapat melonjak. Di Hongaria, misalnya, dukungan terhadap adaptasi iklim dan perlindungan air tinggi, mencerminkan kerentanan lokal terhadap kekeringan dan polusi sungai.Namun, minat ini jarang diterjemahkan menjadi dukungan terhadap dekarbonisasi komprehensif atau pengurangan emisi. Penggambaran perubahan iklim sebagai isu “global” seringkali mengurangi relevansinya bagi partai-partai nasionalis, yang justru fokus pada kemandirian energi domestik, langkah-langkah anti-imigrasi, dan proteksionisme ekonomi.Kekhawatiran yang terbatas ini juga tercermin dalam program partai. Meskipun partai-partai sayap kanan tengah semakin mengintegrasikan tujuan iklim, sebagian besar partai PRR tetap bersikap ambigu atau menentang masalah ini. Hanya sedikit yang mengusulkan target emisi konkret atau rencana pendanaan iklim yang terperinci. Sebaliknya, mereka menyoroti biaya transisi hijau bagi rumah tangga berpenghasilan rendah atau memperingatkan pengaruh eksternal dari lembaga-lembaga Uni Eropa, LSM, atau ilmuwan iklim.Kesenjangan perkotaan-pedesaan dan antar generasiPemisahan internal di antara pemilih PRR mencerminkan garis pemisah yang lebih luas dalam masyarakat Eropa. Pendukung sayap kanan radikal yang lebih muda lebih sadar akan iklim dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, dan pemilih perkotaan cenderung lebih mendukung tindakan lingkungan dibandingkan rekan-rekan mereka di pedesaan. Kesenjangan ini terlihat di negara-negara seperti Jerman dan Swedia, di mana partai-partai sayap kanan radikal menarik baik pemilih kelas pekerja yang lebih tua maupun aktivis muda yang lebih paham internet.Perbedaan generasi ini menimbulkan dilema strategis bagi para pemimpin sayap kanan radikal. Jika mereka tetap menentang tindakan iklim, mereka berisiko kehilangan dukungan pemilih muda. Jika mereka beralih ke nasionalisme hijau, mereka mungkin kehilangan kredibilitas di mata pemilih yang lebih tua yang fokus pada harga energi atau lapangan kerja industri.Seiring dengan semakin terlihatnya masalah iklim dalam kehidupan sehari-hari — melalui banjir, kebakaran, atau tagihan energi — partai-partai sayap kanan radikal menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menentukan posisi mereka. Sejauh ini, sebagian besar dari mereka memilih untuk bersikap ambigu, menggunakan narasi budaya atau klaim kedaulatan untuk menghindari keterlibatan langsung dengan kebijakan emisi.Risiko bagi transisi hijauAmbivalensi pemilih PRR menimbulkan tantangan bagi strategi iklim Eropa. Seiring percepatan transisi hijau, dukungan publik terhadap langkah-langkah seperti penetapan harga karbon, investasi infrastruktur, atau dana transisi yang adil akan semakin penting. Basis pemilih yang besar dan skeptis dapat memperlambat atau menghalangi kebijakan jika tidak ditangani.Selain itu, narasi populis dapat memperkuat resistensi jika langkah-langkah hijau dianggap tidak adil secara sosial. Partai-partai sayap kanan radikal dengan cepat memanfaatkan ketidakpuasan atas kenaikan biaya bahan bakar atau pajak karbon, seperti yang terlihat selama protes Rompi Kuning di Prancis atau penolakan terhadap zona emisi rendah di Italia.Untuk mengurangi risiko ini, pembuat kebijakan harus menyesuaikan komunikasi dan kebijakan iklim untuk menangani masalah keadilan, keterjangkauan, dan manfaat lokal. Menekankan penciptaan lapangan kerja, layanan publik, dan ketahanan ekonomi nasional dapat membantu menjembatani kesenjangan antara tujuan lingkungan dan kekhawatiran pemilih PRR.Politik iklim yang terus berubahSaat Eropa memasuki dekade transformasi hijau, peta politik perubahan iklim terus berkembang. Partai-partai populis sayap kanan radikal akan tetap berpengaruh di banyak parlemen, dan sikap mereka terhadap isu lingkungan dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan kebijakan iklim.Meskipun sebagian besar partai PRR tetap ragu-ragu atau menolak tujuan iklim yang ambisius, pemilih mereka tidak homogen. Mengenali keragaman di kalangan pemilih sayap kanan radikal — dan menangani kekhawatiran spesifik mereka — akan krusial untuk membangun koalisi yang lebih luas dalam mendukung aksi iklim.Mattia Zulianello adalah Associate Professor Ilmu Politik di Universitas Trieste. Ia telah melakukan penelitian di Scuola Normale Superiore, Universitas Leicester, Universitas Florence, dan Universitas Birmingham. Minat penelitian utamanya meliputi populisme, radikalisme politik dan ekstremisme, serta politik komparatif. Ia juga telah menerbitkan banyak karya di jurnal akademis internasional terkemuka.Diterbitkan pertama kali di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.`Artikel ini diterjemahkan menggunakan alat kecerdasan buatan otomatis yang berpotensi memiliki kesalahan, kesilapan dan ketidakakuratan. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memastikan kejelasan dan koherensi, terjemahan ini bisa saja tidak lengkap dalam menangkap nuansa, intonasi dan tujuan dari teks aslinya. Untuk versi yang tepat, silakan merujuk pada artikel aslinya.`Artikel ini pertama kali dipublikasikan tanggal 11 Jun 2025 di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™
Politik
Silahkan Download Artikel Ini.