| Perempuan memimpin gerakan ramah lingkungan Para perempuan inspiratif mendorong solusi berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat, menunjukkan potensi mereka dalam membentuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Oleh Yuen Yoong Leong, Sustainable Development Solutions Network (SDSN) PBB Perempuan di seluruh dunia mendorong aksi iklim yang berdampak besar, mulai dari inisiatif akar rumput hingga kebijakan global, namun masih kurang terwakili dalam peran pengambilan keputusan. : UN Women/Ryan Brown (Flickr) CC BY-NC-ND 2.0 Penyunting Shahirah Hamid, Senior Commissioning Editor, 360info Asia Tenggara DOI 10.54377/c42f-9d87 Perempuan memiliki peran penting di garis depan aksi iklim. Mereka mendorong perubahan kebijakan, menginspirasi solusi berkelanjutan, dan memperjuangkan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial. Mulai dari posisi pemerintah hingga perusahaan dan gerakan akar rumput, kepemimpinan mereka sangat penting. Namun, ada satu hal yang perlu diwaspadai. Meskipun ada sejumlah perempuan yang memiliki hak istimewa untuk memegang posisi berpengaruh, sebagian besar lain sering kali tidak diikutsertakan dalam percakapan.. Perempuan secara signifikan kurang terwakili dalam peran pengambilan keputusan di semua tingkatan, termasuk dalam arena perubahan iklim. Hanya 15 dari 133 pemimpin dunia yang menghadiri COP 28 pada tahun 2023 adalah perempuan. Meskipun kepemimpinan perempuan sudah banyak berkembang di masyarakat, suara mereka kurang menonjol di tingkat nasional. Garda terdepan iklim Laporan UN Women memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat mendorong hingga 158 juta perempuan dan anak perempuan jatuh ke dalam kemiskinan pada tahun 2050. Perempuan dan anak perempuan merupakan 80 persen dari populasi yang mengungsi akibat perubahan iklim, dan menghadapi risiko yang lebih tinggi. Penelitian menggarisbawahi hubungan antara kepemimpinan perempuan dan kebijakan iklim yang lebih kuat, menyoroti pentingnya memberdayakan perempuan untuk memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk solusi iklim. Namun, beberapa ilmuwan perempuan yang berprestasi, akademisi perempuan, pemimpin adat perempuan, dan para filantropis perempuan memimpin upaya perubahan dan menawarkan harapan bagi jutaan orang yang suaranya belum didengar. Datu Dr Lulie Melling, misalnya, adalah perempuan Asia pertama yang terpilih menjadi anggota dewan eksekutif Masyarakat Lahan Gambut Internasional. Kepemimpinannya yang berkelanjutan menggarisbawahi kontribusi tak ternilai dari perempuan dalam penelitian lahan gambut tropis dan komunitas ilmiah yang lebih luas. Perempuan juga memimpin transisi menuju masa depan rendah karbon. Profesor Phoebe Koundouri, seorang pakar global dalam bidang pembangunan berkelanjutan, mempelopori upaya untuk mengintegrasikan model iklim dan energi di seluruh dunia melalui Global Climate Hub (Pusat Iklim Global) dari Sustainable Development Solutions Network (Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan) PBB. Kepemimpinannya sangat penting dalam mengoptimalkan jalur dekarbonisasi secara global. Sebagai pendiri Partners of Community Organisations di Sabah, Anne Lasimbang telah memberdayakan masyarakat adat di Kalimantan selama lebih dari dua dekade melalui pendidikan, hak asasi manusia, dan inisiatif lingkungan. Keberhasilan implementasi proyek mikrohidro dan biogas yang dilakukan oleh organisasi ini, melalui kemitraan dengan Green Empowerment, menunjukkan dampak transformatif dari inisiatif yang dipimpin oleh perempuan dalam menyediakan energi bersih dan meningkatkan mata pencaharian. Pengetahuan masyarakat adat Perempuan masyarakat adat seperti Hindou Oumarou Ibrahim, yang berada di garis depan aktivisme iklim di Afrika, menawarkan perspektif tak ternilai yang berakar pada kearifan leluhur. Penekanan Oumarou Ibrahim bahwa “alam adalah rumah kita, bukan komoditas” kesenjangan yang mendalam antara model ekonomi Barat dan pandangan hidup masyarakat adat. Seruan Oumarou Ibrahim untuk pendekatan jangka panjang yang dipimpin oleh masyarakat, sebagai lawan dari inisiatif jangka pendek yang digerakkan oleh donor, merupakan langkah penting menuju keadilan iklim yang sesungguhnya. Ia berbicara tentang pendekatan yang mencakup tujuh generasi, bukan hanya tujuan cepat pada tahun 2030 atau 2050, misalnya. Yang terpenting, ia juga menunjukkan bahwa alih-alih memandang masyarakat adat sebagai penerima manfaat, komunitas internasional harus mengakui mereka sebagai mitra yang setara dalam membentuk masa depan planet kita. Organisasi yang dipimpin oleh perempuan memainkan peran penting dalam transisi energi bersih global, mendorong inovasi dan dampak sosial. Solar Sister menjadi contoh tren ini dengan memberdayakan perempuan Afrika sebagai wirausahawan energi bersih, mengangkat masyarakat dari kemiskinan sekaligus mengatasi perubahan iklim. Dengan memberikan pelatihan, dukungan, dan akses ke produk energi bersih, Solar Sister telah menciptakan model yang kuat untuk pemberdayaan ekonomi perempuan dan pengelolaan lingkungan. Proyek Solar Mamas di Afrika semakin menyoroti potensi transformatif perempuan di sektor energi. Dengan membekali perempuan dengan keterampilan teknis dan pelatihan kepemimpinan, proyek ini tidak hanya memperluas akses terhadap energi bersih, namun juga meningkatkan status perempuan dalam komunitas mereka. Melalui inisiatif seperti modul ENRICHE, para perempuan ini diberdayakan untuk menantang norma-norma gender dan membangun masa depan yang lebih adil. Transisi energi Nicole Issepi, Direktur Inovasi Energi di Bezos Earth Fund, adalah seorang filantropis visioner yang menjadi contoh kekuatan filantropi strategis. Dengan mengidentifikasi kesenjangan dalam lanskap transisi energi, Issepi menjadi penggerak perubahan yang signifikan. Ia menekankan pentingnya mengatasi hambatan sistemik dan memberdayakan masyarakat untuk melangkah maju, daripada sekadar mendanai kebutuhan yang sudah ada dan dikenal. Kepemimpinan Issepi dalam memprioritaskan area yang kurang terwakili dalam transisi energi sangat penting dalam mempercepat kemajuan menuju masa depan yang berkelanjutan. Seperti yang ia tegaskan di COP 28, “Berita utama (target dan komitmen) terlalu berlebihan penghargaanya saat ini. Dengan 3,6 miliar orang yang tidak memiliki energi yang terjangkau, seharusnya ada lebih banyak sorotan pada tindakan. Diperlukan lebih banyak memberi dan menerima. Jika orang-orang terus datang dengan tuntutan mereka, kemajuan akan berjalan lambat.” Penelitian Profesor Kuntala Lahiri-Dutt AO mengenai kesetaraan gender dalam pengelolaan sumber daya alam telah secara signifikan memperluas pemahaman kita mengenai dinamika gender dan dampak sosial dalam industri ekstraktif berskala besar dan padat modal. Hal ini sangat relevan dengan transisi energi, karena banyak solusi dekarbonisasi bergantung pada mineral yang diekstraksi melalui operasi pertambangan. Pendekatan yang responsif gender terhadap dekarbonisasi dapat mengidentifikasi perempuan yang membutuhkan dukungan dan sumber daya khusus, serta memanfaatkan peluang untuk mengintegrasikan ketahanan, adaptasi, dan mitigasi perubahan iklim dengan program kesehatan perempuan, terutama yang berfokus pada kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksi. Dengan mengadopsi pendekatan ini, para pembuat kebijakan, perusahaan, dan organisasi nirlaba dapat menciptakan solusi iklim yang lebih efektif dan inklusif.(VDJ) Yuen Yoong Leong adalah direktur studi keberlanjutan di UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) dan profesor di Universitas Sunway, Malaysia. Artikel ini diterbitkan di bawah Creative Commons oleh 360info™. Artikel ini sudah terbit dalam Bahasa Inggris pada tanggal 23 September 2024 di 360info.org
|
|---|
Lingkungan
Silahkan Download Artikel Ini.