PHPWord

Meskipun tidak lagi menguasai wilayah, ISIS terus memanfaatkan ketidakstabilan Suriah dan struktur kekuasaan yang terpecah-pecah, melancarkan serangan, dan berupaya menghidupkan kembali perjuangannya`Pengaruh dan kemampuan Daesh telah sangat melemah dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks Irak dan Suriah, kelompok ini hanyalah bayang-bayang dari masa jayanya, terutama jika dibandingkan dengan puncak kekuatannya antara tahun 2014 dan 2017.Namun, terlepas dari upaya terkoordinasi Koalisi Global melawan Daesh dan pengorbanan yang ditanggung oleh rakyat Irak dan Suriah, organisasi yang dikenal sebagai Negara Islam (IS) terus menjadi tantangan yang signifikan.Selama lebih dari 20 tahun, IS dan bentuk-bentuk sebelumnya telah berulang kali menunjukkan ketahanan dan kemampuan mereka untuk bertahan, memanfaatkan kondisi tertentu untuk bangkit kembali dan mengejar aspirasi mereka. Kondisi yang memungkinkan kelompok tersebut untuk mendapatkan kembali kekuatannya antara tahun 2011 dan 2014 – termasuk perang saudara di Suriah, penarikan pasukan AS dari Irak, marginalisasi komunitas Sunni Arab, dan kebijakan di bawah Perdana Menteri Irak saat itu, Nuri al-Maliki – merupakan kondisi yang luar biasa.Dampak yang masih terasa dari “badai sempurna”Namun, warisan “badai sempurna” ini masih terasa. Beberapa kondisi yang memfasilitasi kebangkitan IS, seperti yang telah disebutkan, tetap belum terselesaikan. Selain itu, ketahanan ideologis kelompok ini merupakan faktor kritis. Meskipun ideologi Daesh telah tercoreng akibat kejahatannya, ideologi tersebut tetap bertahan, mampu memanfaatkan keluhan lokal untuk kepentingan sendiri.Dalam konteks ketidakstabilan global saat ini, memantau evolusi IS dan memperbarui dukungan internasional untuk wilayah Tigris dan Eufrat – yang ditetapkan oleh Abu Bakr al-Baghdadi sebagai jantung “khalifah”-nya – sangatlah penting. Urgensi ini sangat terasa di Suriah, di mana jatuhnya rezim Assad semakin mengganggu keseimbangan rapuh negara tersebut.Kehadiran Daesh di SuriahMeskipun pertempuran Baghouz pada tahun 2019 menandai berakhirnya basis teritorial Daesh, kehadiran kelompok tersebut di Suriah tetap signifikan. Kapasitas operasionalnya terbukti dari serangan yang dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir: 1.055 pada 2019, 608 pada 2020, 368 pada 2021, 297 pada 2022, dan 121 pada 2023. Yang mengkhawatirkan, tahun 2024 tampaknya akan melampaui tahun-tahun sebelumnya, dengan lebih dari 250 serangan yang diklaim hingga pertengahan November. Beberapa analisis menunjukkan bahwa angka sebenarnya mungkin lebih dari dua kali lipat.Meskipun IS tidak lagi menguasai wilayah Suriah yang luas, kelompok ini telah memanfaatkan ketidakstabilan negara tersebut dan adanya pusat-pusat kekuasaan yang bersaing. Faktor-faktor ini memungkinkan IS untuk memanfaatkan kendali terbatas yang dimiliki oleh aktor-aktor kunci atas wilayah mereka, persaingan internal, dan keluhan-keluhan lokal.Seperti di Irak, kelompok ini menghindari wilayah yang diawasi ketat, dan sebaliknya berfokus pada melancarkan serangan di wilayah-wilayah di mana musuh-musuhnya memiliki kehadiran yang terbatas. Kelompok ini telah melancarkan operasi signifikan di Deir al-Zor, Raqqa, Suriah tengah (Hama dan Homs), serta sebagian wilayah provinsi Aleppo. Lokasi tiga dari empat pemimpin IS yang tewas sejak 2019 – di dekat Idlib dan Afrin – menegaskan kehadiran mereka yang lebih luas di Suriah.Taktik ketahananSelain serangan, IS secara rutin menggunakan taktik ala mafia, termasuk pembunuhan terarah, kampanye intimidasi, dan merebut posisi militer atau wilayah untuk jangka waktu singkat. Strategi ini memperkuat kehadirannya di lapangan dan mempertahankan relevansinya.Sasaran utama IS tetaplah jaringan fasilitas penahanan di timur laut Suriah, yang dikendalikan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Penjara-penjara ini menampung ribuan pejuang IS, bersama dengan perempuan dan anak-anak yang terkait dengan kelompok tersebut. IS memandang individu-individu ini sebagai aset, baik karena kontribusi potensial mereka bagi organisasi maupun nilai propaganda dari pembebasan mereka. Eskalasi kekerasan di wilayah tersebut berisiko mengubah skenario ini menjadi kenyataan.Dukung rekonstruksi SuriahMeskipun melemah, IS tetap memiliki pengaruh yang signifikan di Suriah. Kelompok ini terus memanfaatkan krisis berkepanjangan di negara tersebut, fragmentasi teritorial, persaingan kekuasaan, dan kesulitan ekonomi. Faktor-faktor ini memungkinkan IS untuk bersabar, menunggu kondisi yang menguntungkan bagi kebangkitan kembali.Komunitas internasional harus bertindak tegas untuk mendukung rakyat Suriah dalam membangun kembali negara mereka dan menghadapi tantangan yang ada. Ini bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga esensial untuk mencegah Suriah kembali menjadi basis peluncuran terorisme dan ketidakstabilan.Andrea Plebani adalah Dosen Pembantu dalam bidang Geopolitik dan Sejarah Asia Islam di Università Cattolica del Sacro Cuore serta Fellow Asosiasi di Institut Italia untuk Studi Politik Internasional. Penelitiannya berfokus pada evolusi Irak modern dan dinamika jaringan jihadis.Diterbitkan pertama kali di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.`Artikel ini diterjemahkan menggunakan alat kecerdasan buatan otomatis yang berpotensi memiliki kesalahan, kesilapan dan ketidakakuratan. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memastikan kejelasan dan koherensi, terjemahan ini bisa saja tidak lengkap dalam menangkap nuansa, intonasi dan tujuan dari teks aslinya. Untuk versi yang tepat, silakan merujuk pada artikel aslinya.`Artikel ini pertama kali dipublikasikan tanggal 09 Jan 2025 di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™