PHPWord

Subsidi konser mega bintang. Perlu?

Konser penyanyi terkenal seperti Taylor Swift dan Coldplay dapat meningkatkan ekonomi lokal, namun menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pemerintah membantu membiayai konser tersebut.

Oleh: Yusuf Reza Kurniawan, Mohammad Dian Revindo and Calista Endrina Dewi – Universitas Indonesia

Konser Taylor Swift yang sukses di Singapura kemungkinan besar akan meningkatkan perekonomian negara ini dan diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Taylor Swift” by © Chad Davis, Some Rights Reserved CC BY 2.0 DEED / Flickr

Ketika Coldplay tampil di Jakarta pada bulan November lalu, diperkirakan telah meningkatkan perekonomian Indonesia sekitar 53,5 juta dollar AS atau 834.7 milyar rupiah.

Menyelenggarakan konser besar oleh superstar internasional dipandang sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan perekonomian dan meningkatkan citra nasional.

Maka dapat dimengerti jika ada kecemburuan di seluruh Asia Tenggara terhadap Singapura yang menandatangani kesepakatan eksklusif untuk enam konser Taylor Swift minggu ini.

Menurut perkiraan LPEM Universitas Indonesia, efek berantai terhadap perekonomian nasional dari konser Coldplay adalah tambahan sebesar 27,6 juta dolar AS terhadap PDB negara ini, yang terutama menguntungkan industri hiburan, transportasi, dan perhotelan.

Seperti Swift, Coldplay menggelar enam konser di Singapura.

Dampak potensial dari konser beberapa hari oleh kedua artis tersebut terhadap perekonomian Singapura cukup besar.

Pertunjukan band asal Inggris ini diperkirakan telah menambah sekitar USD$296,1 juta atau 4.6 triliun rupiah bagi perekonomian Singapura. Sementara konser Swift diperkirakan akan menghasilkan sekitar USD$416,4 juta 6.49 triliun rupiah, terutama karena harga tiket yang lebih tinggi.

Angka-angka ini merupakan angka yang menggembirakan setelah tahun-tahun sulit akibat pandemi COVID, di mana industri musik live mengalami penurunan sekitar USD$30 miliar atau 468 triliun secara global.

Sejak pandemi, angka-angka ini akan terus meningkat karena permintaan yang harus dipendam untuk acara-acara musik live seperti konser ini. Di Indonesia, misalnya, telah terjadi peningkatan acara musik live sejak tahun 2022 dengan banyaknya festival musik dan jumlah konser yang menampilkan artis luar dan dalam negeri yang terus meningkat.

Asia Tenggara telah menjadi salah satu tujuan paling populer bagi para megabintang, dengan imbalan yang besar dari basis penggemar yang sangat besar.

Meskipun ada potensi keuntungan yang besar dalam hal kegiatan ekonomi dalam menyelenggarakan konser-konser besar ini, ada juga beberapa risiko yang harus dipertimbangkan oleh negara tuan rumah.

Ada pertikaian kecil antara para pejabat dari Singapura, Thailand, dan Filipina telah menyoroti dampak potensial dari konser-konser besar ini terhadap kohesi regional.

Perdana Menteri Thailand tidak suka dengan tindakan pemerintah Singapura yang menawarkan subsidi sebesar 2-3 juta dolar AS untuk setiap pertunjukan Taylor Swift, asalkan penyanyi asal Amerika Serikat ini tidak tampil di negara tetangganya.

Langkah ini membuat kesal warga Thailand, sementara seorang senator Filipina mendesak Departemen Luar Negeri untuk meminta penjelasan dari Kedutaan Besar Singapura di Manila.

Jika praktik Singapura dalam menawarkan subsidi pemerintah untuk menarik bintang-bintang global terbukti efektif, negara-negara lain mungkin akan mengikutinya.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah memberikan subsidi kepada artis asing merupakan penggunaan uang pembayar pajak yang bijaksana.

Alokasi dana publik untuk insentif ini mengorbankan pengeluaran pemerintah lainnya, yang berpotensi lebih bermanfaat. Penggunaan dana publik untuk konser-konser besar tentu saja membutuhkan pengawasan yang lebih besar terkait keuntungan dan kerugiannya bagi negara tuan rumah.

Kemudian ada pertanyaan tentang bagaimana konser-konser besar ini dapat bermanfaat bagi industri musik lokal.

Meskipun acara-acara ini menghasilkan aktivitas ekonomi yang signifikan, implikasi yang lebih luas bagi industri musik lokal dan lanskap budaya harus dipertimbangkan dengan cermat.

Masuknya artis internasional dan juga penonton global dapat memberikan panggung bagi talenta lokal untuk menampilkan kemampuan mereka bersama dengan nama-nama yang sudah mapan.

Eksposur ini dapat meningkatkan profil musisi lokal dan mendorong kolaborasi serta kesempatan belajar. Dengan begitu, penyelenggaraan konser besar global dapat memberikan keuntungan lebih dari sekadar keuntungan ekonomi.

Pada akhirnya, meskipun konser besar menawarkan keuntungan yang cukup besar, mereka juga membutuhkan pendekatan yang seimbang, dengan mempertimbangkan insentif ekonomi dan potensi risiko yang ada.

Negara-negara harus menyusun strategi dengan hati-hati, tidak hanya untuk menarik dan menyelenggarakan acara berskala besar, tetapi juga untuk meningkatkannya dengan cara yang mendukung industri lokal, mendorong pertukaran budaya, dan memastikan pengembangan ekonomi kreatif yang lebih luas.

Yusuf Reza Kurniawan adalah Research Associate di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Mohamad Dian Revindo adalah Kepala Kelompok Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Calista Endrina Dewi adalah asisten peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Artikel ini dipublikasikan pertama kali tanggal 8 Maret 2024 di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.